Sinetron Ikatan Cinta: Pesan Keadilan Hukum atas Kesaksian Palsu

Oleh:
Elfahmi Lubis

Cerita kehidupan seseorang dengan segala intrik dan drama di dalamnya, telah banyak mengilhami para seniman dalam membuat karya seni film. Bahkan hampir sebagian besar film masyhur yang masuk kategori ‘box office’ adalah mengangkat cerita dari kehidupan nyata sehari-hari. Karya Buya Hamka sampai Habibie pun sukses menarik perhatian dan emosi penonton ketika divisualisasikan ke layar lebar.

Saya tidak untuk mengajak teman-teman bicara soal teknis film karena itu bukan kompetensi saya, tapi ingin mengajak untuk menarik pelajaran dan pesan moral dari sebuah film atau sinetron. Sinetron mungkin sudah sangat familiar pada masyarakat Indonesia, mulai dari sinetron lokal yang jalan ceritanya mudah ditebak dan selalu menampilkan suguhan antoginisme dan protagonisme penuh akting dan bahkan ‘cibiran’, sampai sinetron luar negeri yang tersohor seperti drama Korea, Meksiko, dan India.

Kali ini kita akan membahas soal Sinetron IKATAN CINTA yang selalu ditayangkan di Stasiun Televisj RCTI setiap Kamis malam ini. Sinetron Ikatan Cinta biasa paling ditunggu kaum hawa, karena ceritanya tentang cinta yang dibalut dengan persengkongkolan yang bikin baper penontonnya. Namun dalam konteks ini saya ingin mengulas secara khusus soal kesaksian palsu yang berkelindan dalam sinetron ini.

Elsa yang berwatak jahat yang selalu ingin menghancurkan keluarga Al dan Andin, selalu melakukan tipu muslihat yang bikin gregetan penonton. Elsa yang banyak menyimpan rahasia dan terlibat dalam kasus pembunuhan Roy. Dengan tipu muslihatnya, Elsa membuat kesaksian palsu yang memaksa Andin menjadi tertuduh sebagai pembunuh Roy, dan ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan karena kesaksian palsu Elsa.

Pelajaran hukum yang dapat diambil dari cerita sinetron ini adalah bahwa barangsiapa yang dengan sengaja memberikan kesaksian palsu dapat dijerat pasal 242 KUHP ayat (1) dan ayat (2) keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka, yang bersalah diancam dengan pidana penjara maksimal 9 tahun.

Sedangkan kepada orang yang menyuruh orang lain untuk memberikan keterangan palsu dibawah sampah dapat dijerat pasal 55 ayat (1) KUHP yaitu orang yang turut serta melakukan perbuatan pidana, dipidana sebagai pelaku tindak pidana. Selamat malam, jangan lupa bahagia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini