Hati Nurani Vs Nafsu

oleh Krisna Andrisya Putra

Hakikat manusia adalah ketika manusia itu bisa mengendalikan kekuatan hati dan pikirannya. Kekuatan pikiran manusia menentukan kekuatan dirinya. Pepatah mengungkapkan bahwa manusia adalah seperti yang dipikirkannya. Ketika dia berpikir baik dan positif, maka kebaikan dan hal-hal positiflah yang akan terjadi dalam hidupnya.

Dia akan menjadi lebih bahagia, enjoy dan nyaman dalam kehidupannya. Sebaliknya pikiran negatif akan membuat dia menderita, dan tidak nyaman dalam hidupnya. Oleh karena itu pikiran positif ini harus selalu kita perkuat dan kita tanamkan dalam diri kita.

Supaya kuat, pikiran harus selalu diberi makanan dan rangsangan. Seperti otot, pikiran akan kuat ketika terus kita latih, latih dan latih. Kita harus selalu melatih cara berpikir positif ini, dengan memberikan sugesti dan penguatan pada pikiran positif yang kita inginkan.

Pikiran juga akan kuat dengan kita selalu berpikir, menambah ilmu pengetahuan baru dan menantang pikiran kita dengan olahraga pikiran seperti menjawab soal, mencari solusi terhadap permasalahan, memberi makanan sehat untuk penguat otak dan pikiran kita, melatih konsentrasi, berolahraga, musik yang menenangkan dan sebagainya.

Pikiran akan lebih aktif bekerja dalam keadaan sersan atau serius tapi santai. Otak berada dalam gelombang alfa.Akan tet  api pikiran akan lemah jika tidak dibarengi oleh kekuatan hati dan keyakinan. Katakanlah pikiran kita sudah percaya pada suatu hal yang logis dan rasional. Tapi jika dalam hati ada keraguan, was-was, kelemahan maka, pikiran yang sudah kuat tadi akan melemah akibat emosi negative yang timbul dari hati yang tidak yakin atau kuat tadi.

Maka kekuatan pikiran harus dibarengi oleh kekuatan hati atau kekuatan spiritual, mental dan emosional. Kita harus memiliki hati yang kuat, jiwa yang kuat yang akan memperkuat pikiran positif yang kita miliki tadi. Hati yang kuat adalah hati yang tidak memiliki keraguan sedikitpun terhadap pikiran positif yang dimilikinya.

Sebagai contoh pikiran menganalisa, memerintahkan dan memutuskan bahwa bertanya lebih baik daripada kita diam saja dalam belajar ketika kita tidak tahu. Tapi hati yang takut dan tidak berani akhirnya mengalahkan pikiran positif dan sehat tadi.

Maka untuk memperkuat hati ini, maka hati atau jiwa ini perlu dilatih juga. Perlu dikembangkan kekuatan hati dan jiwa yang positif. Yaitu kepercayaan diri, keyakinan yang kuat, keberanian, kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kegembiraan, ketenangan, kelapangan hati, dan sebagainya. Maka keyakinan adalah induk dari hati yang sehat.

Keyakinan akan menumbuhkan keberanian dan kekuatan pada hati tersebut. Jika keyakinan dan keberanian sudah menjadi dominan dalam diri kita, maka rasa takut, cemas, khawatir, ragu-ragu akan hilang dan sirna dengan sendirinya. Maka latih dan pupuklah terus keyakinan kita dengan memperbanyak pikiran positif, kemudian berani untuk menerapkan dan melakukan apa yang kita pikirkan dan yakini tersebut.

Jadi berikutnya kunci memperkuat pikiran dan hati adalah dengan menerapkan, melatih dan melakukannya dalam lapangan kehidupan ini. Karena jika pikiran dan hati yang positif itu hanya sekedar tersimpan dalam diri, tapi tidak teruji dalam aplikasi kehidupan maka semua itu tidak ada gunanya.

Karena pikiran positif, hati yang yakin dan berani semuanya bermanfaat bagi kehidupan kita untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang kita inginkan. Hanya satu cara untuk mencapainya yaitu “melaksanakannya”.  Inilah yang disebut kekuatan iman paripurna, yaitu dipikirkan, dikatakan, diyakini, dan dilaksanakan. Singkronisasi antara ilmu, iman dan amal saleh. Itulah yang harus kita lakukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini