Judi Yang Halal Ala Azam

M A PRIHATNO

“Judi memang mengasyikkan dan pengisi waktu yang padanya tertanam harapan-adrenalik”, begitu fatwa penggemar dunia utopia. Pendapat yang seperti ini juga diperkuat dengan logika bahwa manusia adalah makhluk yang sangat menyukai “iming-iming”. Oleh karena itu berjudi adalah aktivitas yang normal dan manusiawi. Dengannya, manusia mengisi hari-hari yang, bukan hanya, sekedar untuk memuaskan syahwat ekonomik, libidomik, moralitik bahkan agamik  semata, tapi juga “kebutuhan” akan pemenuhan iming-iming, seabsurd apa pun itu, menjadi poin penting dalam hidup.

Konstruksi pemikiran yang demikian didapat oleh Azam ketika memasuki wilayah di “luar alam”. Apa itu? Begini ceritanya, hari itu,  saat riuh-pikuknya perpolitikan tahun ini, Azam memperoleh banyak data tentang prilaku politisi dan partisipan politik yang berkaitan dengan nafsu politiknya yang mesti dipuasi agar mencapai ejakulasi-kekuasaan yang maksimal.

Prilaku tersebut diawali oleh fore play dengan membujuk obyek politik agar mau menerima citra yang ditawarkan dengan cara “menghibur”. Penderitaan obyek tersebut dengan janji-janji manis tanpa sedikitpun membuka peluang “teori kritik janji” untuk dipraktekkan.

Selanjutnya, para “teknokrat politik” pun menjadi sasaran berikutnya. Untuk mereka tawaran-tawaran ekonomik menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan mereka. Senjata ini mampu memisahkan amanah dengan sumpah, keteraturan dengan regulasi, integritas dengan harkat-diri, dan kenyamanan dengan tujuan hidup.

Tentu saja, Azam tidak akan menjabarkan dengan bahasa-detail tentang prilaku ini atau dengan menjabarkan siapa, apa dan bagaimana prilaku tersebut berjalan karena “menghormati” UU yang telah diberlakukan di negara ini – selebay apa pun UU tersebut.

Dengan kondisi yang demikian, Azam mencoba membuka “buku tua” yang selama ini telah terkubur bersama jasad dinosaurus. Oleh karena itu, perlu teknik khusus untuk membaca buku tersebut karena buku itu diciptakan sebelum manusia diciptakan. Buku tua itu hadir untuk dinosaurus serta makhluk yang ada pada saat itu.

Memang saat ini buku tersebut tidak sempurna lagi, beberapa halamannya telah hilang, hingga Azam tidak mampu menangkap makna seutuhnya dari buku tersebut, namun beberapa hal dapat terbaca dengan sempurna meski tidak utuh. Membaca sisa halaman yang ada dari buku itu pun tidak semua orang mampu hanya mereka yang memiliki “kegilaan-agamik” saja yang bisa membacanya.

Buku inilah yang membuat jari-jari Azam menulis seperti di alinea pertama, di atas. Mengapa demikian?, ternyata isi “buku tua” itu berkesesuaian dengan kondisi saat ini yang diketemukan Azam.

Kembali ke persoalan judi – karena terinspirasi dari buku itu — bahwa perjudian yang paling  menjijikkan adalah ketika Integritas Jadi Alat Pertaruhan. Untuk judi yang sekedar memuaskan “iming-iming” masih bisa ditolerir. Azam berani berpendapat demikian karena menggunakan perspektif “buku tua”, dengan mengabaikan sama sekali perspektif moral-agamik.

Selanjutnya, Azam, menegaskan kembali bahwa buku itu telah lama terkubur dan hanya diciptakan untuk dinosaurus dan makhluk yang hidup saat itu. Hingga, sebait do’a mesti dilantunkan oleh Azam sebelum mengubur kembali buku itu: TUHAN, Musnahkanlah buku ini hingga DNA- nya pun tak mampu lagi ditemukan, karena dengan demikian, tak ada lagi yang menjadikannya sebagai inspirasi. Amiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini