Membaca Sholat ala Azam (1)

Azam CommunityOleh:
M A Prihatno.
Direktur Eksekutif Azam Community.
(Tulisan pertama dari 4 tulisan)

Sebagaimana diketahui bahwa Allah menuntun umatNya agar bisa mengarungi hidupnya di muka Bumi ini dengan selamat adalah dalam rangka menuju “kampung akhirat” melalui wahyuNya yang diturunkan kepada Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Namun, ada satu perintah yang tidak diturunkan melalui Jibril yaitu perintah “mendirikan” sholat.

Perintah sholat ini dijemput langsung ke hadhirat Allah oleh Muhammad SAW yang, peristiwa ini, lebih dikenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Pengkhususan peristiwa perintah sholat menunjukkan adanya keluarbiasaan di dalamnya, sehingga peristiwa ini pasti mengandung sesuatu yang istimewa dan luar biasa. Oleh karena itu mendirikan sholat juga harus diistimewakan dan dijadikan suatu ibadah khusus bagi setiap muslim.

Berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci dan Hadts Nabi, dapatlah dikatakan bahwa sholat adalah kewajiban peribadatan yang paling penting dalam sistem ritualitas keagamaan Islam.

Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya sholat yang terdapat dalam referensi keagamaan Islam mengharuskan umat untuk meningkatkan intensitas pemahaman akan makna sholat. Dan juga, dapat dikatakan, bahwa sholat merupakan “kapsul” keseluruhan ajaran dari tujuan peribadatan, yang di dalamnya termuat ekstrak atau saripati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.

Dalam sholat terkandung berbagai makna simbolik yang mesti dihayati sejak dari awal sholat hingga akhir yang ditutup dengan “jalinan” salam. Semua simbolisasi ucapan dan gerakan sholat mengandung hikmah yang tak terhingga.

Sholat yang di awali dengan takbir (membesarkan Allah SWT) mengandung makna bahwa diri manusia tidak memiliki kekuatan dan daya apapun; hanya Allah-lah yang serba maha. Sehingga akan tumbuh kesadaran dalam diri akan ketundukan kepada Tuhan selanjutnya akan membuat diri mampu membunuh kesombongan. Hal ini penting karena kesombongan dapat menjadikan manusia MENUTUP DIRINYA DARI KEBENARAN.

Selain itu, pernyataan takbir yang diucapkan pada awal sholat merupakan pernyataan formal seseorang untuk membuka hubungan dengan Tuhan (hablum minallah) dan pernyataan diri sebagai hambaNya.

Karena itu substansi dari penghambaan dapat terlihat dari kehidupan di luar sholat. Yaitu perasaan tunduk dan pasrah hanya pada kebenaran yang bersumber dari Allah SWT dan tidak ada perbuatan yang seakan-akan dirinya adalah pemilik kebenaran absolut. Hanya Allah saja yang mengetahui kebenaran absolut secara hakiki, manusia dengan demikian hanya berusaha untuk menemukan –sedekat mungkin– kebenaran absolut tersebut.

Upaya untuk menemukan kebenaran absolut dalam konteks penghambaan mengharuskan seseorang dalam beragama tidak menutup diri (ekslusif) tapi harus terbuka (inklusif). Oleh karena itulah maka proses dialogis senantiasa harus dilakukan agar tidak ada perasaan bahwa dialah yang paling benar (claim truth).

Beragama yang seperti ini (inklusif) terasa sangat penting untuk dihayati pada era sekarang, dimana arus informasi sangat deras menggerus. Dan, semakin majunya daya pikir manusia sehingga semakin banyak paham keagamaan yang berkembang.

Berkembangnya paham-paham dalam beragama, jika tidak disikapi dengan jiwa yang hanya tunduk pada Sang Kebenaran, akan memunculkan sikap yang saling menyalahkan bahkan saling menyesatkan. Padahal, sekali lagi ditegaskan, bahwa pernyataan takbir mengandung makna bahwa manusia TIDAK MAHA dalam kebenaran.

Perasaan bahwa paham dirinya adalah yang paling benar secara tidak langsung menyatakan bahwa ia telah berhasil menemukan kebenaran absolut dan itu artinya dalam alam bawah sadarnya telah menyamakan dirinya dengan Tuhan sebagai pemilik kebenaran absolut. HAL INI JELAS DILARANG OLEH ALLAH SWT.

bersambung…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini