Negara Obsesif; Saat Azam Merasakan Pancasila

Direktur Eksekutif Azam Community

Oleh:
M A Prihatno.
Direktur Eksekutif Azam Community.

 

Bangsa Indonesia yang bernusantara memiliki dinamika fluktuatif dalam sejarahnya. Sebuah dinamisasi kesejarahan yang sangat panjang sehingga kini, bangsa ini, semakin gamblang dalam mempertontonkan wajah kebangsaanya. Wajah-bangsa yang terobsesi oleh sebuah “rumus-bangsa” yang dinamakan Pancasila.

Secara ideal bahwa Pancasila telah mencapai titik “the end of history” (meminjam istilah dari Francis Fukuyama). Namun kalau dipandang dalam praksisnya terlihat masih seperti “jauh panggang dari api”. Bahkan seakan-akan semakin hilang ditelan oleh wajah bangsa impor yang intervensif. Sehingga mudah sekali diketemukan bahwa praktik-praktik kenegaraan dan kebangsaan bertolak belakang dengan Pancasila.

Menjadikan Pancasila sebagai “the end of history”, bukanlah hanya keinginan semangat ideologis semata, tapi alasan-alasan lain yang rasional sudah banyak dikemukakan oleh para cendekia bangsa ini.

Bahkan seorang Yudi Latif telah membukukan pikiran briliannya dalam sebuah buku yang berjudul Negara Paripurna. Buku ini menguraikan secara komperhensif mulai dari historitas, rasionalitas dan aktualitas dari Pancasila ; uraian yang dijabarkan oleh Yudi Latif dengan membedah setiap sila dengan menggunakan tiga perspektif tadi (historitas, rasionalitas, dan aktualitas).

Selain itu organisasi-organisasi besar di negara ini pun telah menjadikan Pancasila sebagai titik tumpu keorganisasiannya, secara sadar maupun tidak.  Antara lain Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, organisasi kepemudaan dan lain-lain. Yang kesemua itu dengan harapan ingin membumikan Pancasila dan mendarah-dagingkannya dalam tubuh bangsa.

Meskipun demikian masih saja Pancasila hanya menjadi agung secara simbolik tapi miskin dalam praksis.

Pancasila hanya teragungkan dalam rutinitas upacara bendera anak sekolah.  Menjadi hiasan dinding di kantor-kantor instansi pemerintah, dikewajiban mengibarkan bendera merah putih pada saat perayaan 17-an, di buku-buku sosialisasi empat pilar karya lembaga MPR. Buku yang hanya menjadi bahan sosialisasi. Dicetak dalam jutaan eksemplar tapi sedikit sekali yang “berminat” untuk membacanya.

Pancasila juga hanya teragungkan pada pidato-pidato retoris para politisi, menjadi penghias citra penyelenggara negara.

Lebih tragisnya Pancasila hanya menjadi bahan cemoohan para kelompok sempalan, diharamkan dengan landasan theologis-tendensius.

Seandainya Bung Hatta masih hidup dan menjadi Presiden, beliau akan membungkus Pancasila dengan konsep-konsep ekonomi yang kooperatif. Ia tidak akan membuka akses bagi praktik ekonomi yang kompetitif karena kompetitif bukanlah nafas Pancasila.

Pancasila, ekonominya bernafas dengan kooperatif seperti Bung Karno yang menyimpulkan Pancasila dalam satu kata yaitu gotong royong. Bagi Bung Hatta kooperatif meniscayakan kejujuran sebagai alat diplomasi dan sebaliknya tipu daya adalah alat kompetisi.

Untuk menstimulasi moral, Bung Hatta, akan mempercayakan pada Buya Hamka. Dan, Buya Hamka, akan sangat tegas pada prinsip-prinsip ke-Ilahian yang menjunjung tinggi semangat fastabiqul khairat : saling ingin berbuat baik.

Beliau akan memberikan tauladan bagaimana berlemah-lembut dengan sesama dan berkasih-sayang dengan perbedaan paham.

Selain itu, Buya juga akan sangat mudah mempertontonkan cara memberi maaf yang sejati. Maaf yang tidak hanya bergumpal dalam ludah tapi pekat dalam do’a untuk yang dimaafkan.

Saling berbuat baik dan memberi maaf adalah stimulasi utama ketika moralitas akan dijadikan sebagai pembentuk peradaban, begitu juga dengan Peradaban Pancasila.

Seandainya Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie masih hidup, mereka akan sangat marah dengan pelacuran aktivis. Karena aktivis bagi Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie, adalah indikator kemurnian dan ketulusan perjuangan idealisme. Aktivislah yang akan menjadi penjaga idealisme Pancasila.

Mereka akan melakukan internalisasi nilai keaktivisan yang penuh dengan romantisme sehingga pengorbanan terasa indah dan perjuangan akan berpengaruh terhadap tujuan.

Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie tidak akan pernah tenang sebelum para aktivis bangun dari ranjang kenikmatan dan berdiri dengan tegak sambil mengibarkan panji merah-putih.

Seandainya Pancasila adalah seorang manusia maka ia akan menjalin persahabatan dengan KH Agus Salim. Karena Agus Salim mampu berdiplomasi tanpa harus menjual harga diri bangsa. Apalagi sampai menukar kekayaan alam dengan sedikit pujian.

KH Agus Salim, dengan kecerdasannya, mampu berdiri sama tinggi di tengah-tengah bangsa lain, Pancasila sangat suka dengan hal itu.

Pancasila juga merindukan sosok Johan Effendi dan Mari’e Muhammad. Meskipun menjadi pejabat tinggi tapi tidak memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk menumpuk harta kekayaan. Mereka sangat piawai menjaga amanah.

Pancasila akan membungkuk-hormat kepada mereka, seakan-akan ingin membobolkan pertahanan simboliknya. Juga menumpahkan isi Pancasila ketubuh dua sosok tauladan bangsa ini agar mampu mengalirkannya ke anak bangsa lainnya.

Pancasila juga tidak akan mungkin menolak pinangan dari Cak Nur dan Gus Dur. Karena kalau pinangannya ditolak maka akan susah lahir anak bangsa yang bisa berbagi keutamaan; rela “dikafirkan” demi keharmonisan sosial.

Cak Nur dan Gus Dur telah jatuh cinta pada Pancasila. Dan Pancasilapun demikian tapi banyak sekali yang tidak menginginkan hubungan ini terjalin. Cak Nur dan Gus Dur memberikan mahar Sekularisme dan Pluralisme pada Pancasila sebagai pembentuk keharmonisan sosial.

Sekarang Pancasila berdiri sendiri di sudut sempit, kumuh dan gelap. Ingin rasanya menemani tapi aku bukan Bung Hatta, bukan Buya Hamka, bukan Ahmad Wahib, bukan Soe Hok Gie. Juga bukan KH Agus Salim, bukan Johan Effendi, bukan Mari’e Muhammad, bukan Cak Nur dan bukan Gus Dur. Aku hanyalah obsesi.

Dan…. Aku dipanggil Azam oleh sifat, belum berada pada Azam yang Essensial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini